Pergeseran Arah Panjat Tebing Indonesia

foto
[24 Mar 2014]

Jika di masa awal 1970an panjat tebing di Indonesia dilakukan di tebing-tebing batu cadas yang berlangsung hingga dikenalnya tebing buatan yang dibawa oleh para pemanjat Perancis sekitar tahun 1987, maka sejak itu mulailah dunia panjat tebing artifisial ramai dilakukan oleh pemanjat bukan tebing asli. Terlebih dengan maraknya kegiatan kompetisi panjat tebing yang secara eksplisit hanya boleh dilakukan di tebing buatan.

Bisa dibilang saat ini adalah puncak dari kegiatan pertebingan artifisial yang ditandai dengan telah masuknya panjat tebing sebagai salah cabang olahraga pada kompetisi multi event Asia Tenggara SEA Games 2011 Palembang tiga tahun lalu. Akankah setelah puncak ini akan terjadi penurunan? Jika melihat fakta yang ada berupa prestasi yang diraih oleh para pemanjat sepertinya sedang terjadi stagnasi kearah penurunan. Jika misalnya pada awal kompetisi panjat tebing dikenal distribusi prestasi bisa dikatakan merata, maka saat ini hal itu menjadi sangat terpusat dan cenderung membosankan. Fakta yang kelihatan oleh publik adalah minimnya berita kompetisi panjat tebing di media massa baik offline maupun online.

Lantas kemana arah pergeseran selanjutnya? Ke tebing alam lagi atau kemana?. Ya, sebetulnya dulu itu ekosistem panjat tebing di tebing batu yang asli belum matang benar, buktinya dari ribuan tebing yang berserakan di seluruh pelosok NKRI ini mungkin baru puluhan yang terdata dengan baik, dan itupun baru mengandung ratusan jalur pemanjatan. Itulah fakta yang ada yang dikerjakan dengan sangat baik oleh kawan-kawan sendiri berupa katalog ini, terima kasih perlu kita haturkan kepada mereka.

Jika menengok nilai ekonomi secara obyektif, sebetulnya kegiatan di tebing alam benar-benar bisa menjadi sumber pendapatan asli suatu daerah dari kedatangan para pemanjat yang perlu transportasi, makanan, tempat tinggal dan sebagainya. Sedangkan kegiatan di tebing artifisial nyaris hanya menciptakan angka keluaran di anggaran belanja daerah berupa pembangunan fisik dan lainnya dengan harapan bisa meraup prestasi (yang seringkali tidak bisa diraup) yang pada gilirannya boleh dijadikan kredit pada akhir periode suatu rezim politik.

Nah, kita yang katanya mengaku sebagai pemanjat tebing mau kemana? Akan ikut arus atau menentukan arah arus kita sendiri?